Lembaga Konservasi

Lembaga Konservasi

Rabu, 02 April 2014

Kunjungan Gubernur Akpol Bpk. Brigjen Pol Eko Hadi Sutedjo dan Wakil Gubernur Akpol Bpk. Brigjen Sriyono ke the sea Pantai Cahaya, guna meninjau lokasi penyelenggaraan Akademi Polisi Tahun 2014.

Selasa, 25 Maret 2014

Kunjungan Kapolres Kendal Bpk. AKBP. Harryo Sugihartono dan Kapolsek Rowosari Bpk. AKP I Wayan Suprapta beserta rombongan ke The Sea Pantai Cahaya


Jumat, 21 Maret 2014

Kunjungan Bpk. Budi Riyanto (Inspektorat Kemenhut) dan Bpk. Ir. Chrystanto (Kepala BKSDA Jateng) beserta rombongan ke the sea Pantai Cahaya. Di dampingi beserta para Staff Manager dan Bpk. Nova Handani, SE. selaku GM (General Manager) di the sea Pantai Cahaya.

Minggu, 09 Februari 2014

Kunjungan Gubernur Jawa Tengah, Bpk. H. Ganjar Pranowo, SH dan Bupati Kendal Ibu dr. Hj. Widya Kandi Susanti, MM.CD didampingi bersama Bpk. H. Denny Charso ke the sea Pantai Cahaya. Meninjau lokasi di Kab. Kendal yang terkena banjir dan jalan yang rusak, serta meluangkan waktu untuk menyaksikan simulasi Bus Khusus Transportasi Lumba-Lumba.

Minggu, 02 Februari 2014

the sea Pantai Cahaya turut serta memeriahkan acara Tahun Baru Imlek yang ke 2565, menampilkan atraksi Barongan vs Barongsai yang akan menghibur anda para pengunjung tercinta the sea Pantai Cahaya.



Jumat, 10 Januari 2014

Lindungi Masyarakat dari Kepentingan Pihak Asing

 Ketua Umum Aliansi Indonesia H.Djoni Lubis mengajak seluruh pejabat tinggi negara TNI/Polri, pengusaha dan masyarakat Indonesia untuk bersama-sama mencegah semua jenis pungutaan liar, KKN dan peredaran narkoba yang telah menyengsarakan masyarakat. "Kepedulian dan rasa tanggung jawab Aliansi Indonesia senantiasa dibuktikan melalui tindakan nyata untuk pertama menyelamatkan aset negara, kedua menegakkan keadilan dan kebenaran serta yang ketiga menjaga negara kesatuan republik Indonesia,"ujarnya.

Salah satu anggota Aliansi Indonesia yang kebetulan adalah salah satu pengusaha hiburan yang sudah berpengalaman selama 40 tahun di Gelanggang Samudera Ancol yang kini menjabat sebagai Direktur Utama PT. Wersut Seguni Indonesia (WSI) H.Denny Charso belum lama ini merasa diganggu oleh sekelompok LSM asing karena telah melakukan eksploitasi hewan. "Jakarta Animal Aid Network (JAAN) telah mendiskreditkan PT WSI. Padahal PT WSI telah memiliki surat izin dan persyaratan,"H.Denny Charso.

Sementara itu seperti diketahui kalau kelompok LSM  asing itu pernah diusir dari Pulau Karimun Jawa oleh masyarakat setempat karena dianggap penduduk telah merusak lingkungan dan mengadu domba masyarakat setempat. Namun mereka meminta dukungan kepada Menteri Kehutanan Zulkupli Hasan untuk mendukung aksi mereka menentang eksploitasi hewan.

Dan pada beberapa waktu lalu Menteri Kehutanan bersama rombongan telah melepasliarkan dua ekor lumba-lumba Hidung Botol atau dikenal dengan istilah Tursiops Aduncas dari sebuah restoran di Bali.

Mencermati kebijakan tersebut, Ketua Umum Aliansi Indonesia meminta kepada Menteri Kehutanan agar tidak mudah terpancing issu."Saya berharap bapak menteri tidak terpancing issu cinta lumba-lumba,"ungkapnya. [Berita Cahaya]
Pengusaha Sirkus Lumba-lumba Merasa Tidak Eksploitasi Hewan
Miliki Ijin



Pernyataan Ketua Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Pramudya Harzani, tentang penolakan terhadap sirkus lumba-lumba keliling adalah bentuk eksploitasi yang kejam dan bukan sarana pendidikan bagi anak-anak maupun orang dewasa, melainkan bisnis semata serta mencari keuntungan bagi pengusaha sirkus lumba-lumba, ditentang langsung oleh pemilik Lembaga Konservasi Satwa Mamalia Air dan Tumbuhan, H. Denny Charso yang juga selaku Direktur Utama PT Wersut Seguni Indonesia (WSI).

Menurutnya, pernyataan Pramudya sangat tidak benar, dan hanya pembohongan publik agar sirkus lumba-lumba ditiadakan. “Semua yang kita lakukan dalam setiap pemberian makan dan bahan kimia klorin pada air, sudah memenuhi standarisasi International.

Surat izin sekalipun sudah ada dan resmi, mau apalagi? We are expert and we have many experience dalam hal apapun dibidang konservasi satwa (lumba-lumba). Pemerintah melalui Kementrian Kehutanan tidak akan memberikan izin pada LK tersebut.

Bila tidak mempunyai pengalaman dan keahlian dibidangnya. Jangan hanya pemilik sirkus lumba-lumba saja yang selalu diberitakan. Kalau memang Ia penyayang hewan buktinya mana,”ujar Deny.

“Apakah tidak salah JAAN mengatakan, kami-kami ini pengeksploitasi kejam. Justru JAAN sendirilah yang mengeksploitasi harkat martabat Bangsa Indonesia. Dengan berdalih penyayang hewan untuk mendapatkan dana bantuan asing dan berusaha menghancurkan usaha sirkus lumba-lumba. Mau dibawa kemana masyarakat kita ini, mencari lapangan pekerjaan saja sudah sulit,”sambung Deny.

Ditambahkannya, bila memang sirkus ini ditiadakan dan protes penolakan sirkus lumba-lumba harus dibubarkan, Deny mengatakan silakan saja namun dengan syarat.

“Boleh-boleh saja asalkan karyawan kami yang berjumlah ratusan orang harus bisa di “PNS” kan. Mampukah JAAN merealisasikannya. Sedangkan PT WSI ini taat akan pajak. Pertanyaannya, apakah JAAN membayar pajak pada pemerintah,”ungkap Deny berang.

Sementara itu, Wakil Sekretaris II Investigasi Aliansi Indonesia, Sigit H mengatakan, Zulkifli Hasan selaku Menteri Kehutanan diharapkan berpihak kepada pengusaha yang bergerak di bidang sirkus lumba-lumba.

Seperti diketahui, Deny yang sudah berkecimpung di dunia perlumba-lumbaan sejak 38 tahun dan pensiun dini pada tahun 2000 di Gelanggang Samudra Ancol telah memiliki Surat Izin Kepmenhut RI No.SK.393/Menhut-II/201 dan Surat Izin Peragaan. [Berita Cahaya]